Kripto Shiba Inu Rontok Drastis, Ini Penyebabnya

Ilustrasi

Wanovy | Teknologi | 26-11-2021

Aset kripto (cryptocurrency) berlogo anjing populer asal Jepang, Shiba Inu (SHIB), masih cenderung berada dalam tren pelemahan seiring dengan loyonya kripto berkapitalisasi pasar besar (big cap) lainnya sejak pekan kedua bulan ini.

Analis menyebutkan, anjloknya harga SHIB terjadi setelah sejumlah pemegang besar token (whale) melakukan aksi ambil untung (taking profit).

Dikutip  dari data Coinmarketcap.com, Kamis (25/11/2021), pukul 14.01 WIB, SHIB sudah anjlok 16,63% ke posisi USD 0,00003992/token dalam sepekan terakhir.

Sementara, sejak menyentuh harga tertinggi di USD 0,00008845/token pada 28 Oktober 2021, harga token yang mengklaim diri sebagai pembunuh dogecoin, token kripto meme lainnya yang sudah anjlok 54,87%.

Adapun hari ini, token yang diciptakan pada Agustus tahun lalu ini mencoba bangkit dengan naik 1,77%.

Menurut Coindesk, Kamis (25/11), dengan mengacu pada data blockchain, tidak berdayanya SHIB setidaknya selama 2 pekan ini terjadi seiring adanya aksi ambil untung oleh pemegang token SHIB raksasa, di tengah pasar crypto pindah ke mode risk-off, yang merupakan situasi ketika para investor dan trader mengurangi eksposur mereka ke aset berisiko.

"Pasar kripto saat ini dalam mode risk-off setelah adanya rekor tertinggi baru yang dibuat oleh bitcoin dan ether [sekitar] dua minggu yang lalu," kata perusahaan analitik blockchain Nansen kepada CoinDesk, dikutip CNBC Indonesia, Kamis (25/11).

Nansen menambahkan bahwa wajar harga aset kripto seperti SHIB melorot karena investor mengurangi risiko saat ini.

Menurut Nansen, sejumlah wallet (dompet) dengan kepemilikan signifikan alias whale tercatat mengurangi posisi SHIB mereka baru-baru ini, yang mungkin karena adanya aksi ambil untung.

Data dari perusahaan data blockchain Santiment menunjukkan tren serupa. Jumlah transaksi whale, atau jumlah transaksi SHIB senilai lebih dari USD 100.000, telah meningkat sejak awal November.

Menurut penjelasan metrik Santiment, lonjakan pada metrik deposit atau setoran aktif dapat mengindikasikan adanya peningkatan tekanan jual jangka pendek untuk token SHIB.

"Seperti aset apa pun, harga SHIB adalah produk dari penawaran dan permintaan ... persentase yang lebih besar dari pembeli SHIB jelas tertarik oleh daya tarik spekulatifnya saja," kata Rick Delaney, analis senior di OKEx Insights.

Rick melanjutkan, karena tertarik oleh kenaikan harga aset, banyak investor SHIB tidak memiliki keyakinan jangka panjang yang dibutuhkan untuk mempertahankan posisi mereka atau masuk kembali ke pasar saat harga turun alias buy the dip.

Volume perdagangan SHIB telah turun secara signifikan. Sebagaimana diketahui, SHIB pernah menjadi token yang paling banyak diperdagangkan di bursa terpusat, apalagi saat reli lonjakan harga sepanjang Oktober lalu sebagaimana dilansir dari data CoinGecko yang dikutip CoinDesk.

Nansen menjelaskan, volume perdagangan adalah salah satu metrik atau patokan terpenting untuk SHIB dan token meme lainnya.

Ini karena penurunan volume perdagangan menunjukkan bahwa investor mulai kehilangan minat dan menjadi lebih "berhati-hati" dalam memasukkan uang ke dalam token bertema meme.

Menurut data CoinGecko, cryptocurrency (altcoin) alternatif yang paling banyak diperdagangkan di bursa terpusat sekarang adalah token terkait game, termasuk Destraland (MANA) dan Sandbox (SAND).

Dalam 24 jam terakhir, token MANA melonjak 23,71%, sedangkan dalam sepekan melejit 50,40% ke USD 5,45/token.

Adapun token SAND melambung 22,93% dalam sehari dan terbang 119,45%. Berdasarkan data Coinmarketcap, keduanya berada di peringkat masing-masing 23 dan 29 dalam hal kapitalisasi pasar (market cap).

Adapun market cap SHIB saat ini masih di urutan 12, yakni sebesar USD 21,99 miliar.

"Penurunan harga SHIB sebagian besar dapat dikaitkan dengan pergeseran minat investor baru-baru ini dari token meme ke proyek metaverse," tulis situs pelacakan harga kripto CoinMarketCap dalam menanggapi CoinDesk.

"Itu bisa dengan mudah dilihat dengan membandingkan volume perdagangan MANA, SAND dan SHIB. Volume perdagangan selalu terkait dengan minat investor dalam suatu proyek," tambahnya.

Secara rata-rata, aset kripto turun 2,11 persen dibandingkan hari sebelumnya. Saat ini, kapitalisasi pasar kripto senilai USD 2,59 triliun.

Di sisi lain, aset kripto diregulasi oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan lewat Peraturan Bappebti No 2 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Pasar Fisik Komoditi di Bursa Berjangka.Sebagai informasi, di Indonesia, aset kripto masih dilarang sebagai alat bayar.

Namun, saat ini kripto menjadi komoditas bursa berjangka, sehingga tak masalah selama digunakan sebagai investasi maupun komoditas yang diperjualbelikan oleh para pelaku pasar.

Tag : kripto, shiba inu, anjlok, metaverse, token MANA

Berita Terkait